Tuesday, January 3, 2017

Temukan " NmN " di Usia 26 Tahun,. Saya MALU !!!

Ketika kami memutuskan menikah di 2012, saya membebaskan segala kegiatan positif istri dengan hanya mengajukan satu syarat saja : “ please, jangan melanjutkan karir sebagai pegawai kantoran “. Sebagian pembaca mungkin sudah tau alasan dibalik ini,.hahaha.. Ya, berhubung secara fisik saya bukan seorang pria tampan, maka adalah wajar ketika saya menjadi pribadi yang lebih cemburuan dibanding dia ( uhuk,.uhuk.. ).

Tentunya syarat yang hanya 1 buah ini, menjadi cukup berat baginya mengingat dulunya pernah menjadi karyawan swasta semasa berstatus lajang, dan kegiatan sehari-harinya penuh dengan aktifitas yang melibatkan interaksi sosial dengan banyak orang. Saya yang sedari awal sudah meyakini bahwa akan ada hikmah positif dibalik larangan ini, merasa cukup sulit untuk menjelaskan secara logika yang “ masuk akal “ tentang larangan untuk bekerja sebagai karyawan. Satu jawaban “ meyakinkan “ saya yang tulus, serius, dan bisa diucapkan adalah bahwa saya akan lebih mensupport dia jika ingin membuka usaha ( apapun jenis usaha halal ) walaupun harus merangkak dari bawah.

Ketika ada yang bertanya, “ susah ga siy, untuk meyakinkan pendirian Anda terhadap pasangan sampai akhirnya bisa diterima dengan lapang dada ? “. Jujur, jawabannya “ susah banget !! “. Apalagi ketika harus berurusan dengan yang namanya “ tukar pendapat “ dengan orang lulusan Ekonomi Akuntansi.,ha,ha,ha. Yang 90% alasan kita harus nyambung dengan logika akal manusia ( terutama logika itung-itungan ).

Buah keyakinan ini baru mulai merekah setelah saya meyakininya selama kurang lebih 4 tahun. Dan seperti biasa, pengakuan atas keyakinan ini baru saya dapat setelah memang hasilnya sudah kelihatan ( ga adil ya,. ketika masih berproses, saya yang harus memfokuskan pikiran positif itu sendirian,.hehe ).

Share ini saya tujukan untuk sahabat-sahabat pembaca, bahwasanya sekecil apapun ide Anda, ketika itu diyakinkan akan “ BERHASIL “, maka BERHASIL-lah ia. Tak perlu repot mencari tau bagaimana jalan menuju suksesnya, cukup fokus pada prosesnya dan siapkan mental untuk menghadapi sukses itu. Karena sukses itu akan menjadi urusan dan hadiah Allah di waktu yang sudah ditentukan oleh-NYA, dan datang disaat yang terbaik menurut-NYA.

Kembali ke proses wirausaha tadi, ketika sang istri lelah untuk meyakinkan saya agar mengijinkannya untuk kembali bekerja, muncullah ide-ide kecil di kepalanya yang pada awalnya sangat saya ragukan untuk bisa berhasil. Di 2015 sendiri, beliau mencoba 3 usaha yang semuanya terpaksa berhenti di tengah jalan karena belum menemukan pola yang tepat. Masuk awal tahun 2016, dia coba kembali untuk menjalankan 2 usaha lain dan lagi-lagi tersendat ditengah proses perjalanan karena kehabisan ide. Sampai tahap ini, perjalanan menuju wirausaha “ sukses “ nya belum membuahkan hasil bahkan masih 0 besar. Lalu hikmah apa yang bisa dipetik dari kegagalan sebelumnya ? Tak disangka pengalaman kebelakang ini mengajarkan banyak cara tentang membaca segment pasar, online / offline branding terhadap kalangan-kalangan “ kandidat konsumen “ berdasarkan kelompok usia, cara – cara marketing jalanan, jalur distribusi dan stocking, serta pembuatan promosi.

Di tahap ini, giliran saya yang harus BELAJAR darinya.
Respon awal saya ketika ide bisnis “ Kue Kering & Makanan Ringan “ ini tercetus di kuartal akhir 2016 adalah tanggapan pesimistik, kesan meremehkan, dan memandang sebelah mata. Saya sadari setelah satu bulan usaha dijalankan, bahwa pola pikir yang saya yakini selama ini adalah salah dan keliru. Yang awalnya adalah tanggapan picik ketika menganggap untung dari bisnis ini tak seberapa, ditambah lagi dijual dengan harga yang sangat murah,.rasa-rasanya seperti tidak ada masa depan yang cerah untuk menjalankan bisnis seperti ini.

Ibarat ditampar novel Harry Potter yang tebalnya ratusan halaman, saya dikejutkan dengan keuntungan bersih di bulan pertama pasca dijalankannya usaha ini,. yang kalau disetarakan, nyaris sama dengan tawaran gaji dari posisi kerja untuknya di pertengahan 2016.

Saya belajar NYATA bahwa pesimistik dan perasaan memandang enteng / rendah suatu usaha hanya akan membuat kita tidak akan beranjak maju. Selamanya !!!

Saya MALU !! ya, saya merasa MALU !!
Karena pada kenyataannya di usia yang belum genap 27 tahun, dia mampu menganalisa sesuatu yang sama sekali tidak saya miliki ketika di usia yang sama. Kalau tidak salah, saya hanya memiliki satu keahlian ketika usia 27 tahun, yaitu “ bagaimana membujuk calon mertua untuk menerima lamaran saya dan setuju untuk segera menikahi anaknya yang berusia 20-an tahun. Hahahahahaha…. “

I’M PROUD of YOU.,
























Monday, May 23, 2016

Ketika Makna “KAYA” Menjadi Sangat Sederhana !!

Berangkat dari masa-masa remaja yang sulit di awal tahun 2000an, saya memimpikan bahwa makna ”KAYA” kala itu adalah suatu keadaan dimana kondisi keuangan seseorang ada di tahap yang stabil dan terpenuhi. Memasuki masa dewasa, dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati saya berusaha untuk mengejar impian dan pekerjaan yang nantinya menuntun ke arah kemapanan finansial. Ketika memiliki pekerjaan profesional pertama di tahun 2008, saya memimpikan bahwa makna “KAYA” adalah ketika penghasilan perbulan saya mampu menyamai jumlah usia saya ( sebagai contoh jika usia 27 tahun, maka penghasilannya Rp. 27.000.000 / bulan ). Dan ternyata saya SALAH !!

Sebagai anak pertama yang dilahirkan dari keluarga Betawi sederhana, saya melihat jelas perubahan kondisi finansial yang terjadi pada keluarga saya antara sebelum dan sesudah masa RESESI tahun 1998 ( kala itu disebut sebagai zaman “Krismon” ). Kondisi terpukul, dimana ayah saya menjadi unemployment di usia 40an (usia yang sulit untuk mencari pekerjaan baru saat itu ). Dari sinilah timbul keinginan pribadi yang sangat kuat agar kelak memiliki penghasilan yang bisa menyamai jumlah usia saya, sehingga mampu untuk membantu biaya hidup kedua orang tua. Berita buruknya, saya mengabaikan hampir semua faktor “KAYA” yang sesungguhnya sudah mengelilingi saya kala itu, dan hanya berfokus pada 1 tujuan : mapan finansial. Ibarat pepatah bilang “ Semut di sebrang lautan nampak Jelas, Gajah di pelupuk mata tidak terlihat “.

Adapun beberapa makna “KAYA” yang saya TIDAK SADARI saat itu adalah :
- KAYA akan keindahan keluarga inti yang sederhana dan harmonis
- KAYA akan nikmat sehat yang Allah berikan kepada saya dan keluarga inti
- KAYA akan nikmat menyantap segala menu makanan tanpa pantangan
- KAYA akan nikmat berkumpul bersama keluarga di setiap malam-malamnya
- KAYA akan nikmat mendapat nasihat dan siraman rohani langsung dari orang tua

DELAPAN tahun berlalu, barulah saya menyadari bahwa impian awal saya SANGAT perlu untuk di remake ulang. Ketika Allah memberikan kemudahan dan kemampuan atas pencapaian gol yang saya set di tahun 2008, saya menyadari bahwa TERNYATA hal itu tidak memberikan gambaran makna “KAYA” yang sesungguhnya. Ya, saya memang dicukupkan secara materi oleh Allah. Namun kekayaan yang sesungguhnya adalah jauh dari itu dan sangat tak ternilai. “KAYA” yang sesungguhnya adalah ketika kami sekeluarga masih diberikan kesempatan untuk kumpul bersama dan masih dilimpahkan kesehatan oleh Allah. “KAYA” , karena atas izin Allah kedua orang tua saya selalu diberi keberkahan sehat jasmani dan rohani. “KAYA”, karena hanya dengan mengandalkan perlindungan Allah, mereka masih bebas makan tanpa adanya menu pantangan. “KAYA”, karena dimampukan untuk saling bersilaturahmi dengan anak-anaknya tanpa batasan apapun.

Pengalaman ini memberikan sejuta arti baru bagi saya tentang makna “KAYA”. Dan pelajaran yang mungkin bisa dipetik adalah, bahwa setiap dari kita wajib untuk memiliki dorongan besar untuk bisa berhasil. Berhasil untuk sukses, dan berhasil untuk “KAYA”. Namun 1 hal yang perlu diingat, bahwa “KAYA” sesungguhnya adalah dimulai dari keluarga inti Anda. Manfaatkan sebesar-besarnya waktu berharga Anda untuk selalu berada di sisi mereka. Karena merekalah yang akan menjadi “Guard of Angel” Anda tanpa harus diminta. Merekalah yang mampu memberikan dorongan besar untuk memotivasi Anda mencapai potensi maksimal.

Di perjalanan hidup saya, rasanya sujud syukur pun masih kurang untuk mengekspresikan kebersyukuran saya yang amat dalam, mengingat sampai saat ini Allah masih memampukan saya untuk mencoba berbakti pada kedua orang tua yang masih hidup. Di tambah lagi memiliki pasangan yang diibaratkan BUMI & LANGIT ( Si beauty & si beast,. Hahahahahaha ). Jika saya bisa, Anda pun pasti LEBIH BISA !!. yakinkan itu..

Didedikasikan untuk kedua orang tua, istri tercinta, dan kedua adik..

Tuesday, April 12, 2016

Sebuah Niat Yang Mengubah Jalan Hidupnya Bagai Bumi dan Langit !!


Topik kali ini terinspirasi dari kisah nyata seorang SAHABAT BAIK yang hampir membuat saya tidak percaya tentang keajaiban dalam hidupnya. Pembuatan tulisan ini merupakan ekspresi terimakasih saya kepada beliau yang sudah merelakan waktunya untuk bercerita secara detail tahapan-tahapan perjalanan pertualangan hidupnya.

Semoga kisah ini bisa menginspirasi teman-teman lain dan akan menjadi ladang kebaikan yang selalu mengalir untukmu BRO !! Amin amin amin ( hee..hee...).

Tak jarang dalam hidup, kita merasa iri terhadap sesuatu yang tidak kita miliki namun bisa dimiliki oleh orang lain. Tak terkecuali diri saya ini.

Ketika melihat keberhasilan seseorang yang melampaui diri sendiri, rasanya ingin sekali untuk mengetahui rahasia apa di balik itu semua. Namun setelah mengetahui resep-resepnya, tak jarang juga dari kita kemudian merasa " belum mampu " untuk mengikuti langkah-langkahnya. " Belum mampu " dalam artian tidak memiliki keberanian untuk mencoba, atau merasa ragu untuk memulai pertualangannya.

Sahabat saya ini mengawali hidupnya dari sebuah desa yang subur akan tanahnya ( area persawahan ) dan terletak tak jauh dari kaki gunung Sinambung di pulau Sumatera.

Ketika merantau untuk kuliah dan kemudian bekerja di Jakarta, beliau dengan susah payah menyisihkan sebagian besar penghasilannya karena memiliki target yang amat luar biasa HEBAT. Targetnya adalah untuk mampu mengangkat derajat keluarganya di desa dengan menjadi " tulang punggung " yang akan memenuhi segala kebutuhan termasuk pendidikan bagi saudara-saudaranya.
Beliau menyisihkan sedikit demi sedikit bonus pekerjaan yang kemudian digunakan untuk membiayai ibadah haji bagi orang tuanya ( tentunya biaya perjalanan ini diluar dari segala biaya pokok yang dikirimkan setiap bulannya ).

Karirnya mulai menanjak naik ketika mendapatkan tawaran sebuah pekerjaan overseas di luar Indonesia. Ditengah-tengah perjalanan pekerjaannya di luar negeri saat itu, beliau mendapat kabar dari kampung halamannya bahwa saat itu seluruh penduduk desa tengah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk dari meletusnya gunung Sinambung.

Pasca status "Siaga 1" di desanya akibat gunung yang semakin berpotensi untuk meletus di tahun 2014 lalu, tanpa berpikir panjang sahabat saya ini menginstruksikan keluarga besarnya untuk pindah ke tengah kota ( Medan ). Beliau pun hampir mengosongkan tabungannya untuk mengungsikan keluarganya secara permanen dengan membelikan sebuah rumah yang aman, nyaman, dan dekat dengan pusat kota.

Sesungguhnya, perjalanan beliau yang membuat saya tertarik adalah dimulai dari titik ini.

Ketika beliau sudah berniat baik demi kedua orang tuanya, ternyata Allah masih ingin menguji dengan cobaan yang menurut saya tidak semua orang mampu mengatasinya.

Rumah yang dibelinya seharga kurang lebih 500 Juta saat itu, hendak direnovasi dengan alasan perluasan lahan. Ketika dana yang seharusnya dikeluarkan sebesar 200 juta untuk renovasi, membengkak menjadi 300 juta dikarenakan terjadi musibah penipuan yang dilakukan oleh pekerja renovasi rumah tersebut ( uang sebesar 100 juta dibawa kabur oleh pekerja renovasi ). Apa pesan yang mungkin bisa kita petik di tahap ini ? bahwasanya ketika niat baik sudah terlaksana, bisa jadi Allah masih menurunkan ujian-ujian yang hasil akhirnya bisa semakin mengangkat kita ke derajat yang tinggi.

Kalau di total-total, pengeluarannya menjadi 800 juta hanya untuk membiayai orang tuanya agar mendapat tempat tinggal yang layak dan aman.

Apa yang terjadi pada kehidupan sahabat saya ini benar-benar "Blow my mind " ( membuat saya tidak bisa lagi berkata-kata). Apa sebab ? ketika beliau mendapatkan pekerjaan baru di tahun 2015, hanya butuh waktu 3 bulan baginya untuk bisa mendapatkan penghasilan seharga rumah yang beliau beli.

Tentu hal ini membuat kami sebagai teman-temannya seperti kehabisan air liur karena terus-menerus menelannya. Ya kami iri dan ingin seperti beliau. Namun setelah mengetahui kisah sukses dibalik itu semua, saya menjadi semakin yakin bahwa yang membuat beliau kaya raya bukan karena faktor perusahaannya ataupun negara tempat dia bekerja, melainkan karena pribadi dan kebaikan yang telah beliau lakukan.

Ketika kita tanya pada diri sendiri : " mampukah untuk mengosongkan tabungan untuk kemudian diberikan kepada orang tua ? ", saya yakin mayoritas disini belum tentu mampu melakukannya. Maka dari itu tak heran, jika mayoritas kita hidupnya masih begini-begini saja. hehe... padahal hampir semua dari kita mengetahui bahwa "memuliakan Orang tua " pasti akan mendatangkan keberkahan dalam hidup. Namun mengapa masih banyak yang ragu ? jawabannya pasti berbeda-beda.

Pesan yang mungkin bisa dipetik dari kejadian ini adalah, bahwa janji Allah tidak pernah meleset dan tidak pernah salah.
Ketika janji manusia saja bisa kita percaya, apalagi janji Allah.
Semoga semua dari kita masih diberikan kesempatan yang panjang untuk memuliakan dan mengangkat derajat orang tua ke arah yang paling tinggi. Bisa melalui perbuatan, melalui harta, dan yang terpenting melalui do'a.

Nominal uang di cerita ini merupakan gambaran nyata bahwa berapapun yang kita keluarkan untuk kebaikan orang lain ( apalagi orang tua ), ga akan pernah menjadikan kita rugi dunia akhirat.

Jika ada komentar yang mengatakan " Yang penting gua selalu bantu do'a buat mereka, klo bantu uangkan sifatnya tidak kekal ", mungkin komentar saya : " Kalo sama orang tua kenapa siy harus perhitungan ? statement kamu itu seolah2 hanya sebuah alasan untuk supaya dimaklumi ketika tidak membantu secara keuangan ". ( hehehe...).

Wassalam.





Monday, April 4, 2016

Pesona Di Balik Rantai Hutang


Assalamualaikum,
Salam hangat untuk para pembaca.

Tak ada sedikitpun tujuan negatif dalam menulis dan mengulas topik ini, hanya semata-mata berharap semoga isi dari tulisan ini dapat membantu memberikan secuil jalan keluar kepada mereka yang membutuhkan.

Seminggu yang lalu, untuk ke-7 kalinya saya mendengar keluh kesah dari curhatan beberapa teman yang saat ini tengah menggunakan fasilitas KPR ( kredit rumah ) maupun fasilitas-fasilitas kredit sejenisnya di tanah tercinta Indonesia.

Cukup menyedihkan memang, karena fasilitas yang seharusnya meringankan beban para pengguna dalam memiliki rumah / barang idaman justru pada prosesnya di lapangan mengalami keadaan yang sebaliknya. Keluhan rata-rata yang disampaikan adalah besarnya inflasi tahunan yang menyebabkan suku bunga naik tajam. Belum lagi mengenai "tak menentunya" nasib bunga dari kredit bulanan yang harus dihadapi belasan tahun ke depan.

Saya mencoba melihat dari sudut pandang Islam ( karena hanya sudut pandang ini yang saya ketahui ), bahwa sejak awalnya dulu memang sudah memerangi jenis jual beli berbunga seperti yang marak terjadi sekarang. Makanya ada sebutan “haram” ketika meminjam kepada Rentenir ( Lintah Darat ) karena proses pengembaliannya berbunga. Kenapa Haram ? jawabannya simpel, karena bukannya meringankan si peminjam melainkan menambah masalah baru pada si peminjam ( Jumlah yang harus dilunasi menjadi lebih besar ). Begitu pula sistem kredit yang terjadi pada pembelian Rumah, Kendaraan, dan sejenisnya di zaman modern seperti ini.

Contoh Analogi sederhana yang dibolehkan dalam Islam :
Harga Jual TV = Rp. 5.000.000
Harga pembelian TUNAI = Rp. 5.000.000
Harga pembelian CICIL = Rp. 5.000.000 ( 10x cicil @Rp. 500.000 )
* tidak ada bunga & tidak ada perbedaan harga antara Tunai dan Kredit

Transaksi yang terjadi saat ini pada umumnya :
Harga TV = Rp. 5.000.000
Harga Tunai = Rp. 5.000.000
Harga Cicil = Rp. 5.500.000 ( 10x cicil @ 550.000 )
* Selisih Rp. 500.000 inilah yang dinamakan RIBA

Lalu timbul statement yang seolah-olah membela diri agar RIBA ini dimaklumi, yang jika dilihat dari dua sisi pelaku menjadi seperti ini :

Dari sisi pembeli :
" Mas bro, klo saya ga boleh KPR rumah krn RIBA, lalu kapan saya bisa belinya ? saya ga mampu untuk beli tunai "
" Biarin deh RIBA, yang penting saya punya investasi untuk kehidupan di masa mendatang "
" Gapapa 1x aja kena RIBA, tapi setidaknya saya punya jaminan untuk hidup tentram karena tidak perlu mengontrak. "

Dari sisi penjual :
“ Kalo tidak dibungakan, bagaimana kami bisa meraup untung bulanan ? Kan ada biaya operasional harian dan bulanan.“
“ dengan kemudahan kredit yang kami berikan, tentu kami juga menginginkan keuntungan yang sedikit lebih besar. Anggap aja sebagai hadiah dari kesabaran kami terhadap pembeli yang membayar cicil.”

Ketika mendengar statement seperti di atas, rasanya saya tergelitik untuk meresponnya, dan mungkin respon saya seperti ini :

Untuk si Pembeli :
" Apakah Anda yakin akan merasa tentram dan nyaman ketika dibebankan hutang selama 10 tahun ? "
" Apakah ada yang menjamin bahwa 5 tahun ke depan Anda akan masih sanggup mencicil segala agunan yang dibebankan ? "
" Apakah sudah dijamin 100% bahwa property yang Anda angsur ini betul2 bisa bertahan selama masa cicil ? "

Untuk si penjual :
“ Ketika Anda menyebutkan bahwa manfaat dari fasilitas kredit ini adalah untuk meringankan beban pembeli, lalu mengapa harganya bisa sampai 35% lebih mahal dari harga tunai ? bukankah penikmat fasilitas kredit sudah tentu dari golongan menengah ke bawah ? Salahkah saya jika berasumsi bahwa Anda sebagai penjual memang mendorong customer untuk membeli cicil semata-mata hanya untuk menambah jumlah keuntungan Anda saja !”

Mohon maaf jika tulisan ini menyinggung,
Namun jujur saya sangat merinding ketika melihat contoh bagan cicilan seperti di bawah ini : ( klik gambar untuk melihat lebih jelas / zoom )

Begitu hebatnya para penjual ketika dengan mudahnya meyakinkan calon pelanggan bahwa mereka PASTI MAMPU membayar angsuran hingga tahun ke 13. WoW !! BRAVO !! ( Perusahaan sebesar dan semegah NOKIA saja bisa hancur neraca keuangannya hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun sejak pangsa pasarnya tergerus, apalagi kita yang levelnya hanya pekerja kantoran yang tidak pernah tau kepastian nasib karir di 5 tahun mendatang ).

Pada kenyataannya yang saya dengar saat ini, baik dalam bentuk curhatan maupun keluh kesah dari para kerabat yang menggunakan fasilitas sejenis, adalah tentang keadaan yang sebenarnya pasca "pembelian" terjadi. Contoh :

" Cicilan tahun ini bunganya membengkak, saya kudu cari2 akal untuk bisa bayarnya. "
" Angsuran yang awalnya berbunga flat, sekarang malah naik gila-gilaan karena inflasi dan berlakunya pinalty klo sampai telat bayar. "
" Fasilitas yang dijanjikan sangat bertolak belakang. Sertifikat rumah sampai saat ini belum dipecah, masih berbentuk 1 blok. "

Mungkin masih belum terlalu terasa bagi yang menjalaninya kurang dari 2 tahun. Tapi bagaimana keadaannya jika sudah menjalani proses cicil hingga 50% ( 7 tahun perjalanan untuk KPR dan 3 tahun perjalanan untuk pembelian kendaraan ).

Saya merasa bersyukur, dan sudah seharusnya untuk sering-sering bersujud pada Allah karena tidak pernah masuk dalam transaksi-transaksi seperti ini. Saya pun mungkin tergolong kaum KUNO dan ANTIK yang sangat ANTI terhadap transaksi jenis kredit berbunga. Apapun bentuknya.

Ketika saya ditantang dengan sebuah pertanyaan di tahun 2012 ( saya masih sangat ingat kejadian itu) :
" Hei Numan, kalo lo ga mau cicil bagaimana lo bisa beli rumah ? apalagi untuk kawasan Jakarta yang harganya mahal banget ! "
Saya yang saat itu betul-betul belum tau bagaimana caranya untuk membeli, hanya menjawab :
" Saya pasti bisa pak, karena adik saya sudah lebih dulu bisa ! " ( terimakasih untuk Nabil karena telah berhasil membuka mata saya terhadap sebuah keyakinan baru ).

Usut punya usut, ternyata jalan keluar yang saya dapatkan dua tahun kemudian pada dasarnya TIDAK SALING BERKAITAN. Lho kok BISA ??? ( inilah bagian dari keajaiban sang pencipta kita - Allah SWT ).

Dan ketika terkabul, maka pertanyaan tantangan dari teman saya dua tahun yang lalu ( 2012 ) terjawab sudah.

Melalui JALAN-NYA, Allah menurunkan kemudahan untuk memiliki segala kebutuhan dengan membeli melalui cara yang di ridhai Allah. Jika saya bisa, tentu Anda-Anda pun pasti bisa ( karena kita sama-sama makan nasi, sama-sama memiliki waktu 24 jam perhari, dan sama-sama butuh waktu tidur ideal 8 jam / hari.,hehehe.. )

Perlu diketahui bahwa manusia memiliki 2 fitur dahsyat yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.
Fitur dahsyat itu adalah "Keyakinan" dan "Imajinasi".
Ketika 2 fitur dahsyat ini disandingkan dengan permohonan do'a yang hanya kita panjatkan kepada Allah ( pemilik jiwa dari setiap makhluk ), maka pertanyaannya adalah : " Apa yang GA MUNGKIN ??!! "
Anda mungkin tidak bisa melihat kemungkinan dan kemudahan itu sekarang, tapi pasti ada jalan yang menuntun ke sana jika Anda yakin dan mampu meng-imajinasikan-nya.

Pesan yang mungkin bisa disampaikan dalam artikel ini :

- Jangan pernah meragukan kemampuan maksimal diri sendiri. Ketika muncul statement dalam diri “ saya ga akan mungkin bisa beli tunai !! “, maka itu yang akan terjadi pada diri Anda.
- Kita hidup memiliki pegangan ( Allah ) dan prinsip. Dekaplah itu. Yakinilah bahwa 2 unsur ini merupakan sumber kekuatan dan sumber dari segala kemungkinan yang paling dahsyat untuk Anda.
- Ingatlah, bahwa tidurnya seorang hamba yang terbebas dari segala hutang, jauuuh lebih nikmat dibanding tidurnya seorang yang bergelimang harta namun sebagian besarnya adalah hasil kredit.

Saya dengan rendah hati ingin menegaskan, bahwa tulisan ini bukanlah sarana untuk mencari ribut apalagi berdebat. Hanya semata-mata mengungkapkan pendapat dan pengalaman pribadi yang ditunjang dengan beberapa kejadian nyata. Barangkali ada yang tergugah, saya hanya berharap balasan kebaikan dari Allah SWT. Amin.

Friday, March 4, 2016

Kajian Ringan : Opini Publik VS Data Penelitian antara Penghasilan "Single" dengan Penghasilan "Menikah".. Versi Numan

Di pertengahan tahun 2015, banyak bermunculan meme/gambar/opini yang membanding-bandingkan jumlah pemasukan ( income ) perbulan antara “ suami istri “ yang keduanya sama-sama bekerja terhadap “suami istri“ yang hanya salah satunya bekerja, dengan pernyataan yang kurang lebih seperti ini :

JIKA

Penghasilan Suami ( bekerja ) + Istri ( bekerja ) = Rp. 10.000.000,

MAKA akan SAMA HASILNYA dengan :

Suami ( bekerja ) + Istri ( Tidak Bekerja ) = Rp. 10.000.000
(Asumsi ini berdasarkan pemahaman bahwa rezeki istri akan masuk ke dalam gabungan rezeki Suami).

Salah satunya seperti ini :


Di waktu lalu, saya tidak pernah berani untuk mengupas hal ini lebih dalam dikarenakan kurangnya data penilitian dan fakta di lapangan. Walaupun saya sangat meyakini statement diatas berdasarkan pengalaman pribadi, namun rasanya kurang pas untuk mengemukakannya tanpa ada bukti otentik yang bisa saya tampilkan. Dengan adanya data penelitian yang dipublikasi oleh “Qerja” baru-baru ini, maka dengan PD-nya saya berani mengungkapkan pendapat pribadi yang tentunya bukan untuk diperdebatkan apalagi untuk cari ribut. Hehe...
Di bawah ini adalah gambaran perbandingannya : (klik gambar untuk dapat melihat secara zoom)


Data ini didapat dari 1.119.211 koresponden dengan komposisi : 53% perempuan dan 47% laki-laki. Rentang waktu dilakukannya penelitian adalah antara pertengahan 2015 – Februari 2016. Bicara mengenai keakuratan, pastinya data ini tidak akan bersifat 100% akurat. Namun setidaknya, data penilitian dapat mewakili suatu pola yang hampir menggambarkan kondisi secara umum masyarakat di Indonesia. Tidak terkecuali saya ( hal yang saya rasakan di fase kehidupan setelah menikah).

Perbandingan antara laki-laki SINGLE dengan laki-laki MENIKAH, menunjukkan kenaikan penghasilan sebanyak 64%. Dan untuk wanita secara umumnya, terjadi fenomena yang unik dimana status pernikahan TIDAK BERPENGARUH secara signifikan terhadap penghasilan bulanan ( hanya 29% kenaikan ).

Entah darimana datangnya keyakinan pribadi saya saat itu – saat masih single ( 2011 ), bahwa ketika seseorang berkomitmen kuat untuk menikah ( terutamanya laki-laki ), maka pintu rezeki akan terbuka jauh lebih lebar dan luas. Karena dengan menikah, sejatinya seorang pria sudah berjanji akan menanggung seluruh kebutuhan istri baik itu sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan tertier.

Dan sebelum menikah di 2012, saya memiliki permintaan terhadap calon istri untuk nantinya menjadi istri yang 100% mensupport dari rumah ( hehehehe.. ). Alasannya simpel :
1. Saya tidak rela jika istri disuruh-suruh apalagi sampai bekerja lembur
2. Saya tidak rela jika istri sampai kena teguran/omelan dari BOS
3. Saya tidak rela kalo sampai ada yang godain ( hahahaa… ini alasan jujur banget )

Karena kebetulan beliau mahasiswi jurusan Akuntansi kala itu, maka tugas utamanya adalah membuat detail laporan pengeluaran dan pemasukan bulanan dari gaji yang mudah dipahami oleh suami yang sangat lemah di pelajaran akuntansi sedari SMU dan Kuliah ( hahaha.. ).

Lagi-lagi keajaiban terjadi pada diri saya. Sesuatu yang sepertinya sangat sulit dicerna secara logika, karena dari sisi penghasilan terjadi lonjakan sebesar 200% per bulan setelah menikah. Dan skemanya kurang lebih seperti ini :
Jika sebelum menikah :
Numan BEKERJA (A) + Calon istri BEKERJA ( B ) = C ( jumlah penghasilan numan + penghasilan calon istri )
Maka setelah menikah :
Numan bekerja (A) + Istri tidak Bekerja ( B ) = D ( (Jumlah penghasilan numan) x 2 + pendapatan rutin tak terduga )

Lonjakan pendapatan ini yang sebenarnya sangat sulit untuk dicerna logika, dikarenakan semuanya datang secara mendadak dan melalui proses yang sama sekali tidak rumit.

Pesan yang mungkin bisa dipetik dari kisah perjalanan ini, adalah perlunya mental “yakin” bahwa dengan menikah rejeki kita tidak akan berkurang. Malah semakin bertambah dan bertambah. Untuk para suami, mungkin kurang tepat jika melontarkan pernyataan seperti : “ kalo nanti kita menikah, kamu harus tetap bekerja ya..supaya keuangan kita tetap stabil “. Jika seperti itu yang terucap, maka sepertinya kita sebagai insan ciptaan Allah sangat meyakini bahwa “BEKERJA” adalah satu-satunya cara untuk memenuhi rezeki harian. Padahal Allah bisa memenuhi rezeki manusia dengan jutaan cara.

Hingga saat ini, saya meyakini betul bahwa segala sesuatu yang saya dapatkan ( baik itu rezeki uang, rezeki pekerjaan, rezeki liburan gratis,.hehehe ) tak luput dari do’a yang dipanjatkan istri melalui sujudnya yang ikhlas di sajadah rumah dan lantunan do'a disaat suaminya sedang bekerja dikantor. Dengan dilakukannya ibadah dirumah, istri akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengadu, mengangkat tangan memohon pengkabulan kepada Allah.
Timbul pertanyaan : “ emangnya ga bisa klo berdoa di lingkungan kantor ?”. Jawaban saya : “ Tentu bisa. Tapi ga akan bisa lebih dari 30 menit “ ( Asumsi total waktu istirahat 1 jam, 30 menit untuk makan & sisanya untuk sholat dan berdo’a “. Di beberapa perusahaan bahkan ada peraturan ketat bahwa waktu sholat tidak boleh lebih dari 15 menit.

Sekali lagi penulis menegaskan, bahwa tulisan ini bukan untuk mencari ribut apalagi berdebat. Hanya semata-mata mengungkapkan pendapat dan pengalaman pribadi yang ditunjang dengan data penelitian. Barangkali ada yang tergugah, penulis hanya berharap balasan kebaikan dari Allah. Amin.

Wassalam.

Tuesday, February 16, 2016

Tokoh Yang Membuat Saya Semakin Yakin Akan Hebatnya Sebuah " Impian Terdalam " !


Sebagai pemuda yang dilahirkan di era Informasi dan tumbuh dewasa di tahun millenium, rasa-rasanya wajar jika hanya mengagumi sosok Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang kaya raya dan dermawan.

Di saat tak sengaja membaca kisah seorang Henry Ford, kekaguman saya akan seorang tokoh revolusioner ini semakin bertambah dan menjadikan pondasi yang amat kokoh bahwa " kekuatan Impian " mampu mengalahkan segala rintangan.

Di kesempatan kali ini, saya akan menceritakan kembali kisah hidup Henry Ford secara garis besar tanpa mengurangi momen-momen penting dalam hidupnya.

Henry Ford adalah seorang yang memiliki impian sangat besar. Ia menyatakan “ Rahasia kehidupan yang sukses adalah menemukan untuk tugas apakah Anda dilahirkan, lalu mengerjakannya. “

Impian Ford bertumbuh dari ketertarikannya dalam segala hal yang bersifat mekanis. Sejak masih kecil Ford sangat tertarik untuk mempelajari dan mengutak-atik mesin. Ia mengajari dirinya sendiri mengenai mesin uap, jam , dan mesin pembakaran. Ia bepergian ke pinggiran kota untuk melakukan reparasi tanpa menerima bayaran sehingga dengan demikian ia bisa mengutak-atik mesin. Ia menjadi montir dan tukang jam. Ia bahkan bekerja sebagai insinyur untuk Detroit Edison Company pada malam hari.

Ford menjadi sangat tertarik dengan konsep mobil dan ia mencurahkan perhatiannya lebih banyak lagi pada hal ini. Pada tahun 1986, ia membuat mobil pertamanya dalam sebuah gudang di belakang rumahnya. Setelah itu ia terus memikirkan cara untuk memperbaiki usaha pertamanya. Ia mempelajari pekerjaan pembuat mobil lainnya, termasuk pekerjaan Ransom E. Olds, yang membuat Oldsmobile pertama pada tahun 1900.

Dari kecintaannya pada mesin dan intrik selama berkembangnya mobil, impian Ford pun bertumbuh : menciptakan mobil yang tidak mahal dan bisa diproduksi secara massal. Hingga saat itu, kereta jenis baru yang tidak lagi ditarik oleh kuda adalah barang yang sangat mahal. Kendaraan ini hanya bisa dibeli oleh orang kaya saja. Namun Ford berketetapan agar mobil bisa dimiliki oleh orang yang biasa-biasa saja.

Pada tahun 1899 ia membantu di Detroit Motor Company. Ketika atasannya menertawakan idenya mengenai memproduksi produk mereka dengan harga yang tidak mahal sehingga bisa dijual pada orang banyak, ia meninggalkan perusahaan itu. Ia memegang teguh impiannya. Usahanya pun akhirnya membuahkan hasil.

Pada tahun 1903, ia mendirikan The Ford Motor Company dan mulai memproduksi Model T. Pada tahun pertama, perusahaannya hanya memrpoduksi kurang dari 6.000 unit mobil. Namun delapan tahun kemudian, mereka memproduksi lebih dari 500.000 unit. Mereka juga berhasil megurangi harga jual awal mereka dari $850 menjadi $360.

Impian Ford pun menjadi realita. Ford telah disebut sebagai orang jenius dan berhasil menciptakan konsep lini perakitan dan produksi massal. Namun, apapun yang terjadi, aset terbesarnya adalah impiannya dan kesediaannya untuk mencurahkan diri pada impian itu.
Impian bisa mewujudkan banyak hal bagi kita.

Tuesday, February 9, 2016

Prinsip Sukses Tempo Doeloe Yang Harus Diruntuhkan ! ( Bag 2 )



Di era konseptual ini, sebuah perubahan yang awal dulu memerlukan waktu sampai sepuluh tahunan kini hanya perlu waktu bulanan. Coba pikirkan ini : diperlukan waktu 50 tahun untuk pita kaset menggantikan piringan hitam. Lalu butuh kurang dari 10 tahun untuk compact disc menggantikan pita kaset. Segera setelah itu, perlu waktu kurang dari 5 tahun untuk mini disc muncul di pasaran. Kini, kurang dari 3 tahun kemudian, MP3 menjadikan semua yang lain benar-benar ketinggalan.

Menurut pendapat Adam Khoo ( pengusaha milyuner dan trainer terkenal ) bahwa Ekonomi Baru begitu dinamis sehingga 80% yang Anda pelajari di sekolah akan menjadi ketinggalan zaman pada waktu Anda lulus sekolah. Tentu Anda bertanya, mengapa saya menuliskan statement di atas ? jawabannya adalah karena saya bukan pengagum fanatik dari pendidikan formal. hehe,. Menurut saya, faktor yang menjadi penentu kesuksesan seseorang di zaman ini adalah ketekunan, kerja keras, pengalaman, konsisten, dan rasa “ingin tahu yang tinggi”. Bidangnya bisa apa aja, dari mulai ketekunan mempelajari ilmu menjahit, ilmu masakan, atau bahkan ilmu mendaur ulang. 30% dari jenis pekerjaan, produk, dan jasa yang beredar saat ini dan telah dianggap biasa, belum ada saat 10 tahun yang lalu.
Siapa yang pernah mendengar tentang posisi “ Social Media Marketing “, “ Web Designer “ , “ Digital Sales “ di awal tahun 1990-an ?
Di zaman sekarang ini, ada ratusan kali lebih banyak jutawan dan lebih banyak miliuner dibanding dengan puluhan tahun silam. Tidak seperti dahulu ketika sebagian besar dari mereka berusia 50-an, para miliuner kini berusia 30-an.

Dewasa ini dengan memiliki ide inovatif, Anda dapat menjadi pemilik perusahaan bernilai satu miliar dolar dalam waktu kurang dari 10 tahun. Coba lihat Amazon.com, E-bay, Oracle, atau Facebook.
Sebagian dari orang yang menggerakkan dan mengguncang dunia ekonomi baru adalah orang-orang yang putus sekolah dan mempekerjakan ‘para professor’ untuk menjalankan bisnis mereka. Bill Gates ( Microsoft ), Oracle ( Larry Ellison ), Mark Zuckerberg ( Facebook ), & Richard Branson ( Virgin Group ) tidak pernah menyelesaikan sekolah mereka.

Mereka yang paling sukses di dunia ekonomi baru tidak selalu harus orang dengan IQ tertinggi atau mempunyai gelar akademis paling banyak. Yang paling sukses adalah mereka yang menunjukkan pola-pola keunggulan tertentu ( kemampuan untuk mengendalikan sumber daya pikiran & mampu mengeluarkan kekuatan pribadi ).